RSS

SEBUAH CARA untuk MENENANGKAN HATI

09 Des


Secara etimologi dzikir berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘menyebut’ atau ‘mengingat’. Dalam bahasa agama dzikir acap kali didefinisikan dengan menyebut atau mengingat Alloh SWT dengan lisan melalui kalimat-kalimat thoyyibah.

Kendatipun dzikir sering disebut-sebut sebagai upaya mengingat Alloh SWT melalui lisan, namun sesungguhnya esensi dzikir ada pada kesadaran penuh akan pengawasan Alloh SWT dalam segala aspek kehidupan manusia. Kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Alloh SWT inilah yang akan membuat hidup menjadi tenang dan tenteram. Sebab, hidup dalam pengawasan Alloh SWT pasti mengarahkan seseorang untuk tampil humanis, amanah, disiplin, dan taat hukum.

Alloh SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman lagi hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati akan menjadi tenteram.” (QS Ar-Ro’du : 28).

Maka, dzikir seharusnya tidak hanya di forum-forum tertentu, seperti masjid atau musholla, tetapi juga harus melekat saat berbisnis, bekerja, mengajar, rapat tertutup maupun terbuka, dan dalam semua kesempatan.

Seringkali kita menemukan dan bahkan dirasakan sebagian orang, masih ada orangyang gelisah dan gamang dalam hidupnya, kendati sudah berzikir. Imam al-Ghozali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan tentang keajaiban hati (aja’ibul-qolb).

Ia mengilustrasikan, jika seseorang sedang berjalan, lalu ada anjing yang hendak mengganggu dan ia menghardiknya, maka anjing itu akan segera pergi. Namun, bila di sekitarnya banyak tulang dan daging yang menjadi makanannya, maka anjing tersebut tidak akan pergi meskipun dihardik dengan keras. Kalaupun dia pergi, paling hanya sebentar untuk kemudian mengintai lagi, menunggu kita lengah lalu segera kembali.

Melalui ilustrasi tersebut, Imam al-Ghozali ingin menjelaskan bahwa dzikir itu ibarat sebuah hardikan terhadap setan. Dzikir baru akan efektif, kalau hati kita bersih dari makanan setan. Kalau hati sudah bersih, maka dzikir akan mampu menghardik setan, sebaliknya, bila hati dipenuhi dengan makanan setan, maka dzikir sebanyak apa pun tidak akan sanggup mengusir setan, bahkan, setan akan ikut berdzikir pula dalam hati kita. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain, bila ingin dzikir efektif dan mempunyai kekuatan, maka kita harus membersihkan hati dari segala macam makanan setan.

Imam Al-Ghozali menambahkan, makanan setan menjadi peluang dan pintu masuk (madkhol) setan, pintu masuknya adalah segala bentuk penyakit hati. Dan di antara akses masuknya setan yang merupakan penyakit hati yang kerap menyerang manusia adalah al-hirts. Al-hirts adalah ambisi atau keinginan yang sangat rakus, dan selalu ingin lebih. Akibatnya, ia menjadi tuli dan buta mata hatinya, dan ia pun rela melakukan apa saja.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 09/12/2011 in tausyiah hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: